JAKARTA DI ANTARA KUDA DAN MESIN BERTENAGA KUDA

 

I W. Kastawan

Historical Architecture, Nagoya Institute of Technology, Japan

 

 


Jakarta, Jakarta, Jakarta...nasibmu, adalah desahan hati yang keluar dalam kata dari mulut seorang pejalan kaki, disuatu siang diantara terik matahari dan panasnya suasana serta himpitan gedung-gedung tinggi yang seolah-olah menyombongkan dirinya .... aku yang paling tinggi...................

Jakarta, 1930

 

Dalam persfektif dan kaca mata orang-orang kebanyakan di daerah lain di Indonesia datang ke Jakarta adalah sebuah impian sebelum mati. Sehingga boleh dikatakan Jakarta bagai kota surgawi yang diharapkan bisa memanjakan segala kebutuhan akan kehidupan penghuninya. Akan tetapi, kata impian dan surgawi masihkah melekat di Ibukota Jakarta kini? Seperti kita ketahui, mungkin juga kita baca dalam setiap media cetak Nasional ataupun lokal yang selalu memuat berita tentang Ibukota Jakarta terutama dengan berbagai masalahnya. Kota ibarat tubuh manusia; ada kepala, badan serta kaki. Dari ketiga bagian utama organ tersebut ada jaringan penghubung yang fungsinya sangat vital, yang memberi magnet-magnet kehidupan. Kalau jaringan itu ibarat sebuah sistem transportasi yang memiliki kedudukan sangat strategis dalam hal ini, maka sudah sepatutnya untuk ditelanjangi sehingga kita semakin tahu dimana sakitnya. Karena ibarat luka kronis yang tidak tersembuhkan oleh obat dari tabib sehebat Ratanca dalam Legenda Majapahit sekalipun, selalu akut dan muncul dengan tiba-tiba.

 

Ibukota yang seharusnya lebih baik dari kota-kota lainnya, bagaimana tidak, semenjak masa kuda masih mengigit besi sampai kuda naik besi, dari masa Batavia hingga masa dekonstruksi, selalu dan selalu tak terselesaikan. Permasalahan-permasalahan yang ada  telah juga dikaji secara ilmiah yang dilihat dari berbagai aspek oleh para akademisi serta ahli yang pakar di bidangnya. Oleh karena itu paparan dibawah ini ibarat catatan-catatan kecil yang tercecer dalam benak hati seorang pejalan di antara deru debu dan panasnya Jakarta.

 

Berdasarkan sketsa lama yang dibuat sekitar tahun 1850, membawa pikiran dan kenangan kita kejaman kolonial, yang pastinya ketika kompeni Belanda masih berkuasa di Batavia. Ini terlihat jelas dari bendera Belanda yang terpasang tegak di atas atap gerbong kereta, kemungkinan ini adalah cikal bakal transportasi modern di Jakarta. Karena modern disini dapat diartikan sebagai suatu sistem yang dapat memberikan kemudahan, utamanya kemudahan dalam perpindahan itu sendiri.

 

Hal ini terlihat dari adanya roda besi seperti roda kereta saat ini, yang mana berjalan di atas rel-rel seperti biasanya. Kereta itupun berlari dalam perintah sang Masinis, satu berada di depan dan seorang ada di belakang yang bertugas memberi kode kepada Masinis yang berada di depan ketika kereta siap untuk dijalankan. Tak ubahnya seperti kereta modern terakhir saat ini. Hanya saja kereta itu tidak ditarik oleh mesin berdaya kuda, akan tetapi ditarik oleh kuda itu sendiri. Dan satu hal penting yang perlu dicatat adalah jalan kereta saat itu sudah dibuat dua jalur. Posisi duduk penumpangnya juga didesain berhadapan, sehingga memudahkan kontak visual secara langsung sesama penumpang. Hal yang sangat menyenangkan disepanjang jalan yang dilalui kereta adalah dapat menikmati asrinya taman-taman rumah bergaya Belanda dan lestarinya pepohonan lingkungan di sekitar rel kereta.

 

Batavia, 1850

 

Sehingga kalau dipikirkan kembali, rupanya kereta dulu lebih humanis, yang mana alat transportasi tersebut telah  direncanakan dengan baik serta mempertimbangkan kelancaran akses, keselamatan penumpang, kenyamanan perjalanan dan tidak menyumbang polutan yang membahayakan lingkungan. Unik dan menggelitik ketika kita memikirkannya saat ini, memang demikian adanya gambaran Batavia saat masih terjajah?

 

Begitu juga halnya dengan angkutan sungai di era Batavia, di kala sungai-sungai masih bersih dan tak terlalu tercemar seperti sekarang. Kita bisa mengarungi sungai dengan rakit, menelusuri alur berbatas bangunan, jalan dan alam terbuka disepanjang jalur buritan. Ibarat Gondola di negeri Venesia, bisakah Jakarta kini berbedah seperti sedia kala di saat orang-orang masih peduli dengan keberadaannya. Semua bisa dilakukan, sepanjang kita semua ingin dia berubah, asri seperti ketika dia ada dan diciptakan untuk semua penghuni Jakarta.

 

Transportasi air dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pendukung gerak roda transportasi darat, ibaratkan air yang bergerak bebas memberi kesejukan dan kesuburan buat semua. Di zaman Batavia, sungai difungsikan, di samping dapat memperpendek jalur buat orang untuk pergi dari satu tempat ketempat lainnya, paling tidak dapat menciptakan konsekuensi untuk setiap orang berperilaku bijak terhadap lingkungannya. Nilai-nilai kearifan telah ditanamkan pada setiap penghuninya untuk saling menghargai. Sebuah untaian kehidupan surgawi yang pernah tercipta.

 

 

Kali Besar - Batavia, 1880

 

Tapi kini, semua telah berubah, kalau kita menengok potret sungai-sungai di Ibukota Jakarta tercinta, sedih dan tak berani menatapnya, bagai sebuah coreng serta luka yang tidak sepatutnya hadir dalam gemerlap kota metro dan hedonis kaum urbannya. Gundukan sampah menutupi airnya, deretan rumah gubuk menghias bantarannya, merona kelabu airnya, bau busuk yang tak pernah hilang dari raganya, sungguh tragis nasibmu.

 

Jalanan di Ibukota Jakarta sebelum masa kemerdekaan tampak lengang dan sepi, hanya beberapa buah kendaraan yang terlihat lalu lalang. Mungkin saja para petinggi kompeni dan masyarakat borjuis saja yang bisa memakainya. Kondisi jalan yang lebar, sangat tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada. Pepohonan pun masih tumbuh sepanjang jalan, tetapi kondisi jalan tidak semulus sekarang.

 

Dalam rentang waktu kurang lebih enam dasa warsa sejak kemerdekaan dan  ketika milenium pun telah berubah, laju perubahan sangat cepat terjadi, bahkan lebih cepat dari apa yang kita pikirkan dan bahkan membuat semua rekomendasi ataupun perencanaan yang tertuang dalam kertas-kertas karya ilmiah dan penelitian kita menjadi usang dan tak berguna. Tapi sejatinya, masih ada titik terang kedepan kalau kita bersama menghendaki perubahan. Masalahnya hanya sepele saja, masalah Manusia dan Budaya.

 

 Menteng - Jakarta, 1925

 

Banyak pakar dan pemerhati Ibukota yang mengusulkan sebaiknya Ibukota Negara Republik Indonesia dipindahkan saja dari Jakarta, dengan harapan di tempat lain bisa diimplementasikan sebuah grand design Ibukota Negara yang lebih representatif, sehingga semua masalah bisa teratasi. Cukup sederhana memang, tetapi dalam catatan perjalanan ini tak pernah terpikirkan untuk lari dari kenyataan, walaupun sangat sakit sekalipun,  dan tak seharusnya kita meninggalkan Ibukota Jakarta seperti sekarang ini, berpindah ke tempat  lain yang tentunya bakal lebih baik. Kita harus menghargai sejarah, bahwa Jakarta adalah kota Proklamasi dan merupakan salah satu kota pelabuhan terbaik di dunia yang pernah direncanakan oleh Pemerinta Belanda, dari ketika awal bernama Batavia

 

Revitalisasi Kota, Manusia dan Budayanya.

Dalam konteks pembangunan Ibukota Jakarta kini, sudah seharusnya kita bercermin pada masa lalu sehingga kita bisa memprediksikan seperti apa kita kedepannya. Sudahkah Ibukota kita lebih baik dari kemarin? Sepertinya tidak perlu dijawab, kita sudah tahu jawabnya, ketika orang belum mengajukan pertanyaan kepada kita. Karena kita malu melihat wajah kita sendiri, dan berharap orang lain tak menanyakannya. Akan berbeda halnya, ketika kita tanyakan pada orang dari negara-negara maju di daratan Eropa, seperti apa Ibukota negaramu? Dalam raut muka bangga dan senangnya mereka akan menjawab, karena Ibukota Negara mereka kebanyakan patut untuk dibanggakan.

 

Tapi tak perlu berkecil hati, sebagai anak bangsa Indonesia, apapun milik kita seharusnya patut untuk dibanggakan. Konsep Revitalisasi menjadi sebuah pilihan ke depan untuk memajukan dan menempatkan kembali nilai-nilai yang melekat pada Ibukota sejak dilahirkan sampai berusia ratusan tahun seperti sekarang ini. Nilai-nilai berharga itu bisa kita bangkitkan serta hidupkan agar kita kembali mempunyai Ibukota yang dapat  dibanggakan seperti mereka diluar sana.

 

Sebagai sasaran utama Revitalisasi Ibukota Jakarta memang ditujukan kepada elemen-elemen fisik kota, salah satunya adalah sistem transportasi yang humanis dan berbudaya. Akan tetapi yang lebih utama dari perencanaan itu semua adalah keseriusan pemerintahnya untuk menjadi panutan dalam posisi garda terdepan setiap perubahan, di samping dukungan secara aktif dan kritis serta kesanggupan penghuninya untuk mengikuti dan mendukung setiap perubahan. Jadi kesimpulannya adalah bagaimana membudayakan masyarakat agar tercipta masyarakat yang berbudaya serta menghargai setiap perubahan itu sendiri. Semoga Jakarta sembuh dari sakitnya.