GERMLINE STEM CELLS: REGENERASI SEL TELUR
ILMU BARU DARI PARADIGMA LAMA
Leri S. Faried
Department of Gynecology and Reproductive Medicine,
Graduate School of Medicine, Gunma University, Japan
E-mail: leri@med.gunma-u.ac.jp
1. Pendahuluan
Doktrin utama dalam biologi reproduksi pada mamalia betina adalah bahwa saat lahir mereka dibekali oleh sejumlah sel telur dengan jumlah tertentu, yang akan matang satu persatu seiring perkembangannya; yang dikenal dengan fenomena menstruasi.
Secara umum, sel telur (oocyte) pada wanita akan terus berkurang setelah kelahiran melalui mekanisme apoptosis (kematian sel yang terprogram).1 Pada manusia, cadangan oocytes akan menipis dan diperkirakan habis dalam kurun waktu ± 5 dekade; dan kemudian wanita mulai memasuki masa menopause.2
Pada tahun 1921, Pearl dan Schoppe mengusulkan doktrin dasar biologi reproduksi yang menyebutkan bahwa pada mamalia betina tidak akan dihasilkan sel telur baru setelah dia dilahirkan oleh induknya.3 Konsep ini diterapkan sebagai dogma sentral pada tahun 1951.4 Dogma ini telah dipercaya dan dianut lebih dari 50 tahun, dan hingga kini fakultas-fakultas kedokteran di Indonesia masih sangat kental mengajarkan dogma yang juga masih dianut oleh para dokter spesialis kebidanan.
2. Ilmu Baru dari Paradigma Lama
Hasil penelitian terbaru oleh tim yang dipimpin oleh Professor Jonathan L. Tilly dari Harvard Medical School, Boston, memberikan bukti baru yang cukup mencengangkan, yang mungkin akan meruntuhkan teori yang selama ini kita pelajari, saya pelajari, dan kita percaya berpuluh-puluh tahun.
Professor Tilly membuktikan dengan gamblang menggunakan tikus-tikus betina dari 3 jenis yang berbeda (C57BL/6 nude mice, CD1 dan AKR/J), bahwa tikus-tikus betina dewasa masih dapat menghasilkan sel-sel telur baru (yang diamati dengan munculnya germline stem cells atau GSCs dalam populasi sel-sel telur lama, di mana GSCs ini merupakan cikal-bakal terbentuknya cadangan folikel). Tim peneliti ini mendapatkan bahwa GSCs akan kembali diproduksi dan menghasilkan ± 77 oocytes primordial baru per hari di dalam ovarium tikus tersebut, bahkan setelah tikus-tikus tersebut diterapi oleh Busulfan, yang secara spesifik menghancurkan GSCs.
Penemuan ini, walaupun masih sangat kontroversi, menimbulkan banyak ide baru khususnya dalam bidang ilmu keganasan. Seperti kita ketahui bahwa hal yang paling ditakutkan dalam pemberian kemo- dan atau radioterapi pada wanita usia produktif adalah ikut rusaknya cadangan sel telur yang dapat menyebabkan infertilitas (kemandulan). Bukti-bukti baru ini akan merangsang penelitian selanjutnya untuk mengefektifkan GSCs dalam memproduksi sel-sel telur baru secara aktif pada pasien paska pemberian kemo-radioterapi.
Pro dan kontra terus membayangi hasil penemuan kontroversi ini. Salah satu pertanyaan yang masih tersisa adalah “Bila memang ternyata tubuh dapat membentuk sel-sel telur baru setelah proses kelahiran, mengapa masih ada proses menopause pada wanita?” Mereka yang pro berspekulasi bahwa meskipun wanita memiliki cadangan sel telur, akan tetapi kesehatan reproduksinya akan menurun pada usia 30-an dan ini akan sangat mempengaruhi GSCs sebagai mesin pencetak sel-sel telur tadi. Hal ini juga disertai dengan akan banyaknya defek atau kerusakan pada sel-sel telur yang sudah matang seiring dengan bertambahnya usia reproduktif tadi.
Masih banyak hal yang harus dibuktikan dari penemuan tadi, bukan tidak mungkin paradigma lama tentang sel telur ini akan runtuh dan memaksa kita membuat textbook baru. Satu hal yang menarik adalah bahwa ternyata “tidak ada ilmu pasti yang pasti”.
3. Daftar Pustaka
1. Tilly JL. Commuting the Death Sentence: How Oocyte Strive to Survive. Nature Rev Mol Cell Biol 2001; 2: 838-48.
2. Richardson SJ, et al. Follicular Depletion During the Menopausal Transition: Evidence for Accelerated Loss and Ultimate Exhaustion. J Clin Endocrinol Metab 1987; 65: 1231-7.
3. Pearl S, et al. Studies on the Physiology of Reproduction in the Domestic Fowl. J Exp Zool 1921; 34: 101-18.
4. Zuckerman S. The Number of Oocytes in the Mature Ovary. Recent Prog Horm Res 1951; 6: 63-108.