PRODUKSI TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) DI DAERAH BERCURAH HUJAN TINGGI DI KABUPATEN BOGOR
Tatang Sopian
Dinas Kehutanan dan Perkebunan / Konservasi Sumber Daya Alam Kabupaten Purwakarta ; United Graduate School of Agricultural Science, Tokyo University of Agriculture and Technology
E-mail: tsopian@yahoo.com
Abstrak
Budidaya tanaman karet di daerah bercurah hujan tinggi kurang optimal bagi pertumbuhan dan produksi tanaman karet itu sendiri, sebagaimana ditampilkan pada kajian ini. Di daerah yang bercurah hujan tinggi seperti di Kabupaten Bogor produktivitas karet per areal tanam menjadi lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas rata-rata wilayah se-propinsi Jawa Barat. Dalam kondisi wilayah yang memiliki curah hujan tinggi, lama penyinaran matahari yang bermanfaat untuk fotosintesis tanaman menjadi lebih rendah. Hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Kabupaten Bogor sering disertai dengan angin kencang atau angin berkecepatan tinggi yang dapat menumbangkan pohon atau mematahkan batang tanaman karet dan mengakibatkan menurunnya populasi tanaman per hektar. Intensitas hujan yang tinggi juga menyebabkan kelembaban udara yang tinggi dan mengakibatkan mudahnya tanaman karet terserang penyakit. Siklus musim setahun turut mempengaruhi pula siklus produksi tanaman karet yaitu, terdapat musim-musim dengan produktivitas rendah dan terdapat pula musim-musim dengan produktivitas tinggi.
1. @Pendahuluan
Karet alam adalah salah satu komoditas utama sub sektor perkebunan di Indonesia. Data tahun 2006 menunjukkan luas areal tanaman karet di Indonesia adalah seluas 3,31 juta hektar (ha) dan menempati areal perkebunan terluas ketiga setelah kelapa sawit (pertama) dengan luas 6,07 juta ha dan kelapa (kedua) dengan luas 3,82 juta ha. Setelah karet, kopi adalah tanaman perkebunan yang menempati posisi keempat dengan areal penanaman seluas 1,26 juta ha dan kakao (kelima) seluas 1,19 juta ha (Deptan, 2006). Produksi nasional karet pada tahun 2006 adalah sebesar 2,27 juta ton karet kering (KK) dengan produksi terbanyak berasal dari Sumatera (termasuk Bangka-Belitung dan Riau Kepulauan) dengan total produksi sebesar 1,66 juta ton. Produktivitas karet nasional pada tahun tersebut mencapai 868 kg KK / ha dan telah mengalami peningkatan yang signifikan bila dibandingkan dengan satu dekade yang lalu yang hanya mencapai 575 kg KK / ha (tahun 1996).
Bila dibandingkan produktivitas areal tanaman karet antar propinsi, terdapat kecenderungan produktivitas tertinggi berasal dari propinsi-propinsi di Sulawesi dan Jawa yang mencapai lebih dari 1000 kg KK / ha, sedangkan di pulau-pulau lainnya hanya mencapai kurang dari 1000 kg KK / ha (Gb.1). Hal ini diperkirakan sangat terkait dengan kondisi kesuburan lahan yang berbeda di kepulauan yang ada di Indonesia.

Gb.1. Produktivitas areal tanaman karet di 23 propinsi di Indonesia (Diolah dari basis data Deptan, 2006). Anak panah berwarna merah menunjukkan nilai produktivitas 1.000 kg KK/ha yang menjadi petunjuk batas produktivitas tinggi dan rendah dalam deskripsi pada tulisan ini.
Bila ditinjau lebih spesifik lagi dengan mengambil kasus pada daerah yang lebih sempit lagi dibandingkan dengan daerah sekitarnya, akan tampak adanya pengaruh keadaan iklim (agroklimat) lokal terhadap produktivitas areal tanaman karet. Setidaknya hal ini dapat dilihat dengan rendahnya produktivitas lahan kebun karet di lokasi studi yang terletak di Kabupaten Bogor, yang pada saat studi dilakukan pada tahun 1997 memiliki produktivitas rata-rata sebesar 771 kg KK / ha sedangkan produktivitas tingkat propinsi Jawa Barat pada saat itu adalah sebesar 804 kg KK / ha dan produktivitas sementara karet nasional pada saat itu adalah sebesar 601 kg KK / ha. Berdasarkan studi tersebut, tulisan ini akan menguraikan bagaimana pertumbuhan dan produksi tanaman karet di wilayah bercurah hujan tinggi.
2. @Metodologi
2.1. Lokasi Studi dan Keadaan Iklim
Studi dilakukan di salah satu kebun di Kabupaten Bogor, Jawa Barat (nama perusahaan perkebunan tidak disebutkan). Kabupaten dan Kota Bogor adalah daerah yang dikenal memiliki curah hujan yang cukup tinggi, bahkan khusus untuk Kota Bogor diberi julukan sebagai Kota Hujan di Indonesia. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh pihak kebun selama 5 tahun sebelum studi dilakukan, curah hujan rata-rata di daerah tersebut sebanyak 4.470 mm dengan frekuensi rata-rata 191,2 hari hujan setahun. Dari sebaran data di dalamnya diketahui bahwa curah hujan terendah dalam periode tersebut adalah sebanyak 4.009 mm dengan frekuensi 178 hari hujan setahun dan curah hujan tertinggi sebanyak 5.407 mm dengan frekuensi 213 hari hujan setahun (Gb.2a). Hujan yang turun dalam sehari lebih sering terjadi pada waktu sore hari (pukul 12.00-15.00) (Gb.2b).
Lokasi kebun tersebar di daerah dengan ketinggian rata-rata 64 m di atas permukaan laut (dpl), 360 m dpl dan 707 m dpl (Gb.3) dengan kondisi tanah didominasi oleh jenis latosol. Lokasi kebun memiliki pembatas geologis di sebelah utara merupakan dataran rendah yang seterusnya menghadap ke Laut Jawa, di sebelah timur merupakan sub-daerah aliran sungai (DAS) Cisadane, sebelah barat merupakan sub-DAS Cidurian, dan sebelah selatan merupakan dataran tinggi yang terdapat dua buah gunung masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) yaitu Gunung Salak (selatan-tenggara) dan Gunung Halimun (selatan-barat daya). Pembatas geologis pegunungan (termasuk dengan adanya Gunung Gede dan Gunung Pangrango) di bagian selatan ini diduga merupakan salah satu penyebab tingginya curah hujan di daerah Kabupaten Bogor yang umumnya terkait dengan pembentukan hujan orografik yaitu hujan yang terbentuk akibat pendinginan uap air (awan) yang disebabkan karena desakan angin dari arah pantai naik ke atas pegunungan.
(a)
(b)
Gb.2. Grafik curah hujan dan hari hujan di lokasi studi selama 5 tahun terakhir sebelum studi (a) dan waktu terjadinya hujan dalam 24 jam (b). (Data kebun, diolah)

Gb.3. Peta lokasi kebun yang terkonsentrasi pada elips yang ditunjuk oleh anak panah berwarna merah (360 m dpl), sebaran lainnya terletak agak ke utara (64 m dpl) dan agak ke selatan (707 m dpl). Dimodifikasi dari Peta Topografi skala 1:250.000, (Direktorat Topografi AD, 1955)
2.2. Pengumpulan dan Pengolahan Data
Data-data pertumbuhan dan produksi tanaman karet bersumber dari data-data yang dimiliki oleh kebun. Demikian pula data-data iklim yang berupa curah hujan dan hari hujan bersumber dari data-data yang dimiliki kebun yang sejak tahun 1960 pengukuran data-data tersebut telah dilakukan untuk keperluan yang terkait dengan usaha kebun. Data-data lain yang berupa lama penyinaran, suhu udara dan kecepatan angin diperoleh dari Stasiun Klimatologi Darmaga - Bogor, sedangkan data curah hujan dan hari hujan yang diperoleh dari stasiun klimatologi ini dipergunakan pula untuk perbandingan. Data-data produksi / produktivitas karet nasional dan propinsi menggunakan data yang diperoleh dari basis data Departemen Pertanian.
Data-data yang terkumpul direkapitulasikan dan diolah secara sederhana dengan menggunakan program eworksheetf MS-Excel dan disajikan dalam bentuk gambar ataupun grafik di dalam tulisan ini.
3. Pembahasan
3.1. Produktivitas Karet Relatif Rendah
Berdasarkan data produktivitas areal yang terkumpul pada periode 1990-1996 produktivitas tanaman karet di kebun yang terdapat di daerah Kabupaten Bogor relatif lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya di Propinsi Jawa Barat (Gb.4). Jika dibandingkan dengan daerah lainnya pada skala nasional produktivitasnya masih relatif lebih tinggi berhubung di beberapa propinsi terdapat daerah-daerah yang mempunyai produktivitas yang sangat rendah yaitu khususnya yang terletak di luar Pulau Jawa dan di luar Pulau Sulawesi dan mengakibatkan rendahnya produktivitas tanaman karet di propinsi tersebut (Gb.1).

Gb.4. Grafik perbandingan produktivitas tanaman karet kebun lokasi studi di Kabupaten Bogor dengan rata-rata produktivitas propinsi Jawa Barat dan nasional Indonesia.
3.2. Hubungan Antar Parameter-Parameter Iklim dan Siklus Musim
Berdasarkan data-data iklim tahunan dalam rentang periode 1989-1996 maupun siklus musim di kebun lokasi studi, terdapat hubungan antar parameter iklim yang satu dengan yang lainnya. Curah hujan yang tinggi di daerah studi berhubungan erat dengan frekuensi hari hujan yang sering terjadi (Gb.5a). Frekuensi hari hujan yang semakin sering terjadi dalam siklus musim berakibat semakin rendahnya rata-rata frekuensi penyinaran matahari (Gb.5b), di samping itu juga mengakibatkan semakin tingginya rata-rata kelembaban udara (Gb.5c) dan rata-rata kecepatan angin yang datang per bulannya (Gb.5d).


(a) (b)


(c) (d)
Gb.5. Hubungan antara curah hujan per tahun dengan frekuensi hari hujan per tahun (a) serta hubungan antara frekuensi hari hujan per bulan dengan lama penyinaran matahari (b), kelembaban udara (c) dan kecepatan angin (d).
Siklus musim dalam setahun menunjukkan bahwa puncak musim hujan ditandai dengan curah hujan tertinggi yang jatuh pada bulan Desember sampai dengan Februari (Gb.6a). Demikian pula frekuensi hari hujan (Gb.6b) dan kecepatan angin yang tinggi (Gb.6a) sering terjadi pada bulan Desember sampai dengan Februari tersebut bersamaan pula terjadi penyinaran matahari dengan lama penyinaran yang rendah (Gb.6b). Sedangkan sebaliknya puncak musim kemarau jatuh pada bulan Juni sampai dengan Agustus ditandai dengan curah hujan terendah (Gb.6a) dan frekuensi hari hujan yang rendah (Gb.6b). Kelembaban udara yang tinggi dengan suhu udara terendah dialami pada puncak musim hujan yaitu pada bulan Januari dan Februari (Gb.6c). Suhu udara mengalami dua kali puncak panas tertinggi yaitu pada awal musim kemarau pada bulan Mei dan pada awal musim hujan yaitu pada bulan September dan Oktober (Gb.6c).

(a) (b)

(c)
Gb.6. Siklus musim di kebun lokasi studi dengan parameter curah hujan dan kecepatan angin (a) serta frekuensi hari hujan dan lama penyinaran matahari (b).
3.3. Hubungan Antara Parameter-Parameter Iklim dengan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Karet
Parameter lingkungan khususnya iklim dapat mempengaruhi produksi tanaman karet (Raj et al. 2005 ; Rao et al, 1998). Curah hujan yang terlalu tinggi di atas 4000 mm mengakibatkan penurunan produktivitas tanaman karet per pohon (Gb.7a). Parameter hari hujan pada frekuensi kurang dari 190-200 hari hujan per tahun cenderung meningkatkan produktivitas tanaman karet per hektar lahan kemudian menurun setelah melampaui 200 hari hujan (Gb.7b), hal ini terkait pula dengan lama penyinaran matahari di mana peningkatan produktivitas lahan tanaman karet kuadratik terhadap lama penyinaran matahari (Gb.7c). Sedangkan kecepatan angin yang tinggi cenderung meningkatkan jumlah kerusakan tanaman karet (Gb.7d) dalam bentuk patah batang ataupun tumbang.
Curah hujan yang cukup sebetulnya dapat meningkatkan produktivitas setiap tanaman karet akan tetapi pada kasus di kebun lokasi studi secara jelas mengalami penurunan, hal ini diduga karena curah hujan di atas 4000 mm per tahun sudah melampaui curah hujan optimal untuk produksi tanaman karet. Penyebab lainnya yaitu bahwa sebagaimana digambarkan di awal yaitu, di kebun lokasi studi sering terjadi hujan di sore hari (Gb.2b). Hal ini menyebabkan saat dilakukan sadap pada keesokan harinya, keadaan tanaman karet masih belum kering dan kadar air dalam lateks yang dihasilkan masih tinggi, akibatnya kadar karet kering relatif lebih rendah daripada keadaan normal.


(a) @@@@ @@@@@@(b)


@@@@(c) @@@@@@@@@(d)
Gb.7. Grafik hubungan antara curah hujan dengan produktivitas karet per pohon (a), hubungan antara frekuensi hari hujan dengan produktivitas karet per hektar (b), hubungan antara lama penyinaran matahari dengan produktivitas karet per hektar (c) dan hubungan antara kecepatan angin dengan jumlah pohon karet yang rusak (patah atau tumbang) per hektar (d).
Produktivitas per pohon karet dan produktivitas per hektar lahan tanaman karet agak berbeda parameter iklim yang mempengaruhinya. Jika produktivitas per pohon dipengaruhi langsung oleh curah hujan, maka produktivitas per hektar lahan sebetulnya dipengaruhi langsung oleh lama penyinaran matahari (Gb.7c), hal ini diduga karena kepadatan populasi tanaman karet turut berpengaruh di dalam keefektifan dan efisiensi fotosintesis tanaman karet. Berhubung lama penyinaran matahari mempunyai korelasi linier yang kuat dengan frekuensi hari hujan (Gb.5b), maka di sini ditampilkan pula hubungan antara hari hujan dengan produktivitas lahan (Gb.7b). Menurut Darmandono (1995) produksi karet menurun dengan semakin banyaknya hari hujan setahun. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa hal tersebut disebabkan karena semakin tingginya resiko kerusakan lateks sebelum dikumpulkan atau meningkatnya serangan penyakit daun dan bidang sadap seiring dengan meningkatnya curah hujan.
Kecepatan angin yang tinggi telah banyak dilaporkan mengakibatkan kerusakan terhadap tanaman karet dalam bentuk pohon tumbang, patah batang, patah cabang dan terpuntir / bengkok sebagaimana dilaporkan pula oleh Thomas (1993) di Sumatera Utara dengan gambaran keadaan angin yang disebabkan oleh pergerakan angin muson barat. Pada kasus di kebun lokasi studi, ditemukan hubungan langsung (korelasi polynomial kuadratik) antara semakin cepatnya rata-rata kecepatan angin dengan kecenderungan semakin banyaknya tanaman karet yang rusak (Gb.7d). Berhubung korelasi pula dengan frekuensi hari hujan, maka diperkirakan ada hubungan tidak langsung antara frekuensi hari hujan dengan jumlah tanaman karet yang rusak. Kerusakan tanaman karet ini mengakibatkan rendahnya populasi tanam kebun lokasi studi yaitu hanya rata-rata 271 pohon karet/ha, sementara potensi populasi dapat mencapai 400-450 pohon/ha sesuai perhitungan jarak tanam yang umum di perkebunan karet.
Di samping karena kerusakan tanaman karet akibat angin, kerusakan tanaman karet juga terjadi akibat serangan penyakit. Di berbagai tempat terlihat adanya tanaman karet yang menderita penyakit batang dan ditambah dengan penyakit akar yang turut mengakibatkan mudah patah atau tumbangnya pohon karet (Gb.8a). Di pembibitan tanaman karet, serangan penyakit yang terjadi saat curah hujan tinggi mengakibatkan keadaan bibit yang tidak seragam (Gb.8b). Serangan-serangan penyakit ini juga diduga terkait dengan keadaan iklim yang bercurah hujan tinggi dan menjadi tempat yang nyaman bagi bakteri dan cendawan penyebab penyakit.
(a)
(b)
Gb.8. Serangan penyakit batang pohon karet (anak panah berwarna kuning) dan akar pohon karet (anak panah berwarna merah) (a), serta keragaan pembibitan tanaman karet setelah terserang penyakit pada pembibitan (b)
3.4. Siklus Musim dan Fluktuasi Produksi Tanaman Karet
Siklus musim di kebun lokasi studi dalam setahun mempengaruhi fluktuasi produksi tanaman karet. Puncak produktivitas tertinggi tanaman karet terjadi pada awal musim kemarau yaitu pada bulan Mei dan puncak terendah produksi terjadi pada akhir musim kemarau dan awal musim hujan yaitu pada bulan Agustus, September dan Oktober (Gb.9) atau disingkat bulan ASO.
(a)
(b)
Gb.9a. Fluktuasi produksi tanaman karet dalam siklus curah hujan (a) dan kelembaban udara (b) selama setahun.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa puncak musim kemarau di kebun lokasi sebetulnya terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus yang diindikasikan dengan curah hujan yang rendah (Gb.6a) dan frekuensi hari hujan yang tinggi (Gb.6b). Namun puncak terendah produktivitas agak bergeser dua bulan setelahnya (Gb.9a), Hal ini diduga terkait respon fisiologis tanaman karet sendiri yang pada bulan-bulan puncak musim kemarau (khususnya Juli-Agustus) terjadi pengguguran daun. Pada bulan Juli saat mulai terjadi pengguguran daun, hasil fotosintesis pada bulan sebelumnya (Juni) masih cukup membantu produksi lateks tanaman karet itu sendiri, sedangkan pada bulan September saat ada pucuk baru (daun muda) hampir tidak ada simpanan hasil fotosintesis bulan sebelumnya (Agustus) sehingga tidak mampu membantu produksi lateks.
Di samping penyebab tersebut, ada pula penyebab lain yang diduga mengakibatkan rendahnya produktivitas pada periode tersebut, yaitu serangan embun tepung Oidium heveae saat terbentuknya pucuk baru setelah pengguguran daun (sekitar akhir Agustus - awal September). Serangan penyakit ini rutin terjadi di setiap blok (31 blok) lahan tanaman karet pada periode tersebut sebagaimana terdapat di dalam laporan tahunan pihak kebun. Penyakit embun tepung Oidium heveae merupakan penyakit yang cukup dikenal menyerang tanaman karet di Amerika Latin maupun Asia Tenggara (Limkaisang et al. 2005) termasuk di Indonesia.
Puncak tertinggi produktivitas lahan tanaman karet (bulan Mei) terjadi agak bergeser 4 bulan setelah puncak tertinggi musim hujan (bulan Januari) (Gb.9a). Hal ini diduga terkait dengan curah hujan yang terlalu tinggi (lebih dari 450 mm) per bulan kurang optimal bagi produksi karet, di mana saat curah hujan (Gb.9a) dan kelembaban tinggi (Gb.9b) kadar karet kering dalam lateks cenderung lebih rendah. Selain itu, pengaruh efisiensi fotosintesis saat kematangan daun yang terjadi pada bulan April - Mei turut berperan dalam produktivitas tanaman karet.
4.@Kesimpulan
Curah hujan berpengaruh terhadap produktivitas tanaman karet. Kabupaten Bogor mempunyai keunikan karena curah hujannya yang relatif sangat tinggi. Curah hujan yang tinggi ini mengakibatkan produktivitas tanaman karet di kebun karet yang terdapat di dalamnya menjadi relatif lebih rendah dibandingkan produktivitas tingkat Propinsi Jawa Barat meskipun bila dibandingkan dengan skala nasional masih lebih tinggi.
Selain faktor utama curah hujan yang tinggi, penyebab produktivitas yang relatif rendah ini juga disebabkan karena inefisiesi fotosintesis akibat rendahnya intensitas / lama penyinaran matahari, dan rendahnya populasi tanaman per hektar akibat rusaknya tanaman karet yang merupakan pengaruh langsung dari tingginya kecepatan angin selama hujan. Faktor penyebab lainnya adalah serangan penyakit, yang selain mempengaruhi produksi karet juga turut mengganggu pertumbuhan tanaman karet.
Kesemua faktor-faktor penyebab tersebut, ternyata bermuara pada permasalahan parameter iklim curah hujan yang parameter iklim lainnya turut terkait. Demikian pula dengan fluktuasi produksi tanaman karet turut dipengaruhi pula oleh musim yang dikaitkan pula dengan volume curah hujan yang terjadi setiap bulannya.
7. Daftar Pustaka
1. Darmandono. 1995. Pengaruh Komponen Hujan Terhadap Produktivitas Karet. Jurnal Penelitian Karet, 13(3), 223-238.
2. Deptan. 2006. Basis Data Statistik Pertanian ( http://database.deptan.go.id/ )
3. Direktorat Topografi AD. 1955. dalam T. Sopian. 1998. Laporan Keterampilan Profesi Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian IPB( data sekunder).
4. P.S. Rao, C.K. Saraswathyamma, M.R. Sethuraj. 1998. Studies on the Relationship Between Yield and Meteorological Parameters of Para Rubber Tree (Hevea brasiliensis), Agric. & For. Meteorol, 90(3), 235-245.
5. S. Limkaisang, S. Kom-un, E.L. Furtado, K.W. Liew, B. Salleh, Y. Sato & S. Takamatsu. 2005. Molecular Phylogenetic and Morphological Analyses of Oidium heveae, a Powdery Mildew of Rubber Tree. Myoscience, 46(4), 220-226.
6. S. Raj, G. Das, J. Pothen, S.K. Dey. 2005. Relationship Between Latex Yield of Hevea brasiliensis and Antecedent Environmental Parameters. Intfl J. Biometeorol, 49 (3), 189-196.
7. Thomas. 1993. Beberapa Usaha untuk Mengatasi Kerusakan Tanaman Karet Karena Angin. Warta Perkaretan, 12(2), 27-29.