SISTEM NAVIGASI KENDARAAN BERMOTOR DI JAKARTA
Agustan
Anggota Ikatan Surveyor Indonesia
Graduate School of Enviromental Studies, Nagoya University, Japan
E-mail : agustan@seis.nagoya-u.ac.jp
Transportasi jalan raya sebagai salah satu bagian dari sistem transportasi sering dianalogikan dengan pembuluh darah dalam sistem peredaran darah tubuh manusia. Apabila peredaran darahnya lancar, tubuh akan terlihat sehat. Sebaliknya apabila terjadi kemacetan, misalnya penyempitan pembuluh darah, kemungkinan ada gangguan penyakit yang parah. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kelancaran transportasi suatu kota membantu kesehatan kota beserta penduduknya.
Kelancaran transportasi menjamin kelancaran distribusi barang kebutuhan dan juga perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Khusus untuk tranportasi jalan raya, kelancaran dan kenyamanan merupakan aspek yang selalu diutamakan. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai tujuan ini, mulai dari memperbanyak jalan raya, membangun jalan tol, pengaturan rute dan pemberian informasi yang akurat tentang jalan itu sendiri.
Informasi dapat diperoleh dari peta yang merupakan salah satu produk dari pekerjaan survey dan pemetaan. fMap speaks louder than wordsf demikian salah satu idiom yang sering didengungkan oleh dunia perpetaan. Dalam lembar peta, jaringan transportasi merupakan salah satu unsur yang wajib ditampilkan. Khusus untuk peta perkotaan, jaringan jalan dan persil merupakan dua unsur yang mendominasi informasi dari peta tersebut.
Perkembangan teknologi juga mempengaruhi media penyampaian informasi peta. Pada akhir tahun 90-an, fPeta Guntherf merupakan peta navigasi yang menjadi tumpuan bagi masyarakat Jakarta. Informasi diperoleh dari lembar peta yang dibukukan dan interaksinya masih manual. Teknologi informasi digital saat ini memungkinkan peta dalam bentuk buku menjadi informasi dalam multimedia yang bisa disajikan di dalam layar monitor mini yang dapat dipasang di dalam mobil. Informasi yang disajikan pun bisa ditingkatkan menjadi fknowledgef dan fwisdomf dalam piramida alur pemanfaatan data melalui berbagai analisis yang terpadu.
Sistem Navigasi Digital Kendaraan Bermotor
Sistem navigasi digital kendaraan bermotor roda empat atau lebih pada umumnya terdiri dari 2 sub-sistem yaitu sub-sistem peta dasar dan sub-sistem alat penentu posisi. Peta dasar merupakan informasi tentang lokasi jalan beserta atributnya (utamanya nama jalan) hasil pengolahan data dari pekerjaan survey pemetaan. Karena tujuannya untuk navigasi, maka peta dasar ini lebih difokuskan kepada informasi jalan secara detil. Untuk mendapatkan peta dasar jalan yang detil, diperlukan proses pemetaan yang menggabungkan metode extra-terestris dan terestris, dan ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Peta Gunther misalnya menggunakan foto udara Jakarta sebagai informasi awal kemudian dilengkapi dengan survey terestris selama 2 tahun.
Penentu posisi di lapangan, saat ini dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut GPS (Global Positioning System) receiver. Sebenarnya sistem penentu posisi saat ini tidak hanya GPS yang merupakan produk Amerika Serikat, tetapi juga ada Glonass produk dari Rusia dan GNSS (Global Navigation Satellite System) produk dari Uni Eropa. Penentu posisi ini mampu memberikan informasi koordinat di permukaan bumi, sehingga jika digabungkan dengan peta dasar yang mempunyai sistem koordinat yang sama, maka terbentuklah suatu sistem navigasi yang handal.
Sistem navigasi digital untuk kendaraan bermotor dapat dikelompokkan menjadi 2 sistem yang berbeda, yaitu sistem navigasi aktif dan sistem navigasi pasif. Sistem navigasi pasif adalah sistem yang dalam proses navigasinya hanya melibatkan unit dari kendaraan bermotor itu sendiri, misalnya pengendara dengan sistemnya. Pada sistem navigasi aktif, selain unit kendaraan, unit pemantau dari tempat lain juga dilibatkan. Armada taxi merupakan salah satu contoh dari sistem navigasi aktif.
Keadaan di Jakarta dan Harapan Masa Depan
Saat ini di Jakarta, aplikasi sistem navigasi kendaraan bermotor roda empat atau lebih sedang berkembang. Mulai dari aplikasi perencanaan dan operasional kepolisian (Polda Metro Jaya), pemantauan armada taxi Blue Bird, pemantauan distribusi bahan bakar minyak oleh armada truk BBM sampai kenyamanan pengguna pribadi.
Untuk aspek komersial, yang melibatkan institusi atau organisasi besar, maka sistem navigasi aktif dapat meningkatkan efisiensi melalui tambahan analisis dengan menggunakan sistem informasi geografis (GIS, geographical information system) terutama metode analisis jaringan (network analysis). Dengan lengkapnya data atribut tentang jalan itu sendiri, misalnya panjang jalan, kondisi jalan, keadaan jalan-jalan pada waktu tertentu, keadaan sosial sekitar jalan; analisis lebih mendalam tentang pemilihan rute dapat dilakukan. Misalnya untuk perencanaan pengawalan oleh pihak kepolisian, sistem ini sudah digunakan. Pertamina juga sedang berusaha untuk mengembangkan sistem pemantau dan navigasi tiap saat (real time monitoring) armada penyalur BBM untuk menghilangkan fenomena kebocoran BBM dalam perjalanan.
Untuk pengguna pribadi, sistem navigasi pasif yang digunakan, hanya bergantung pada alat penentu posisi dan peta dasar. Apabila salah satu unsur ini tidak akurat, maka informasi navigasi pun akan tidak sesuai dengan harapan. Alat penentu posisi saat ini mempunyai ketelitian sampai 5 meter, artinya informasi posisi (koordinat) yang diberikan berada dalam toleransi radius 5 meter dari posisi sebenarnya. Hal ini sudah memenuhi kebutuhan untuk sistem navigasi di perkotaan sehingga unsur ini sudah bukan merupakan hambatan lagi. Lagipula dengan makin beragamnya produk dari negara lain seperti Belanda, Korea dan China, maka alat penentu posisi makin gampang dan mudah didapatkan dengan harga yang terus bersaing.
Sesungguhnya sistem navigasi yang digunakan oleh masyarakat umum saat ini di Jakarta baru pada taraf awal. Sistem ini hanya terdiri dari alat penerima sinyal (receiver) GPS yang mempunyai fitur (feature) layar tampilan (display) mini dan kemampuan menyimpan data koordinat dan gambar (image). Peta jalan yang ada kemudian direktifikasi (didefinisikan sistem koordinatnya menjadi sistem koordinat yang sama dengan sistem GPS) kemudian disimpan di alat GPS sebagai peta dasar (background image). Apabila alat GPS dinyalakan dan akan digunakan untuk navigasi, maka posisi alat GPS saat itu akan tampil dengan latar belakang peta dasar yang akan terus mengikuti pergerakan alat GPS. Dengan cara ini maka pengendara yang menggunakan GPS sebagai alat bantu navigasi akan mengetahui kira-kira di mana posisi (koordinat) sebenarnya.
Sistem ini sebenarnya bukan sistem navigasi yang ideal. Sistem navigasi ideal seharusnya mampu memberikan analisis yang lebih jauh data yang ada. Misalnya sistem navigasi kendaraan bermotor yang ada di Jepang atau negara lainnya yang mampu memberikan informasi rute terpendek, rute tercepat, beserta beberapa pilihan dalam perjalanan. Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan algoritma analisis jaringan (network analysis) dalam sistem informasi geografis.
Yang menjadi kendala utama pada sistem navigasi perkotaan di Indonesia, terutama Jakarta adalah peta dasar. Kelengkapan peta dasar sangat bergantung kepada kemutakhiran informasi yang diberikan. Khusus untuk Jakarta, peta dasar dikeluarkan oleh Dinas Pemetaan dan Pengukuran Tanah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DPPT Prov DKI Jakarta) (Gb.1).
Peta ini memberikan informasi gambaran secara geometrik yang diperoleh dari hasil pemotretan udara dan menghasilkan peta detail dengan skala 1:1000 yang artinya 1 milimeter di peta sama dengan 1000 milimeter atau 1 meter di lapangan. Ini merupakan peta dasar yang paling akurat dari segi geometrik yang terdapat di Jakarta. Sayangnya, tidak semua atribut yang dibutuhkan untuk keperluan navigasi terdapat dalam peta ini, sehingga diperlukan usaha tambahan untuk melengkapinya.
Pemutakhiran informasi secara tematik untuk keperluan navigasi dilakukan oleh banyak pihak, baik institusi (pemerintah atau swasta) maupun perorangan dengan cara survey lapangan secara langsung (terestris). Hal ini tidak menutup kemungkinan duplikasi pekerjaan, misalnya pemutakhiran nama jalan dilakukan oleh beberapa pihak. Beberapa komunitas, khususnya dari komunitas otomotif berinisiatif untuk mengembangkan sendiri peta dasar untuk keperluan navigasi mereka, dan hasilnya dapat digunakan oleh masyarakat luas.
|
|
|
Gb.1 Contoh tampilan peta dasar Jakarta produk DPPT (Sumber http://dppt.jakarta.go.id/) |
Salah satu komunitas yang cukup aktif dalam kegiatan pemetaan partisipatif ini adalah hid-gpsh. Komunitas ini pada awalnya terbentuk melalui milis (mailing list) yang mempunyai kegemaran akan pemetaan, navigasi dan otomotif. Kegiatan pemetaan partisipatif ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang seakurat dan semutakhir mungkin tentang posisi suatu obyek yang dianggap penting, misalnya posisi seluruh rumah sakit, apotik, tempat menarik, bahkan sampai pemutakhiran nama jalan (Gb.2).
|
|
|
Gb.2 Contoh tampilan peta jalan Jakarta hasil inisiatif dari komunitas id-gps (Sumber: Judhi Prasetyo, id-gps) |
Perkembangan kota Jakarta yang demikian cepat juga sangat mempengaruhi atribut untuk persil. Atribut yang sebelumnya masih berupa tanah kosong, beberapa bulan kemudian sudah menjadi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) atau sebaliknya. Hal ini juga merupakan tantangan tersendiri bagi dunia pemetaan Indonesia yang harus mengembangkan sistem survey cepat untuk perkotaan dan pemutakhiran data secara cepat, akurat dan terpadu. Untuk itu juga diperlukan semacam metadata yang dikelola secara tunggal dan bersifat koodinasi dari berbagai data yang terkait dengan navigasi.
|
|
|
|
Gb.3 Contoh sistem navigasi kendaraan bermotor di Jepang. Gambar sebelah kiri memperlihatkan informasi peta dan posisi real time, dan gambar sebelah kanan memperlihatkan antena GPS (dilingkari dengan warna merah) yang diletakkan di dalam mobil. (Sumber foto: Agustan, koleksi pribadi) |
Melihat perkembangan dunia pemetaan dan otomotif di Jakarta, tidak lama lagi sistem navigasi yang sering dijumpai di negara lain (misalnya Jepang) akan bisa dijumpai di Jakarta.
Referensi
1. Dinas Pemetaan dan Pengukuran Tanah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, http://dppt.jakarta.go.id/
2. Komunitas mailing list id-gps@yahoogroups.com